Main Saham Pasti Rugi

Setiap kali saya menyebut kata saham pada teman-teman yang awam dengan saham. Mereka selalu menambahkan kata “main” di depannya. Padahal saya tidak cerita sedang bermain melainkan saya cerita kalau saya “beli” saham. Karena kalau “main” seolah-olah seperti game, atau judi.

Apa yang saya lakukan adalah membeli saham ketika harga rendah dan menjualnya ketika harga tinggi. Ini sama saja dengan pedagang di pasar tradisional. Mereka beli barang dari tengkulak A.K.A suplayer, kemudian menjual ke konsumen dengan selisih harga tertentu. Tujuannya sama-sama mencari untung. Lantas kurang layak disebut “main”. Seharusnya tetap disebut “jual beli”

Jika teman-teman menganggap jual beli saham adalah permainan. Maka disitulah letak kerugiannya. Karena mentalnya sudah mental judi atau mental spekulasi.

Belajar Dulu Baru Transaksi

Sebelum saya terjun ke jual beli saham, saya telah membaca lebih dari 52 judul bacaan termasuk buku, jurnal, thesis maupun blog. Lebih dari 30jam saya habiskan untuk menonton video tutorial trading di youtube. Setiap hari setiap malam saya geluti. Selain daripada itu, saya coba buat beberapa tools untuk prediksi. Mulai dari menggunakan sentimen analysis, regresi linear sampai artificial intelegent dikombinasikan dengan banyak metode.

Kesimpulannya… “Tidak ada yang bisa memprediksi harga” Bahkan dengan artificial intelegent + sentiment analysis. Hasilnya tidak lebih dari 50% kecocokan setelah melewati fase back testing.

Lalu apa saja yang saya pelajari sebelum terjun untuk transaksi?

  1. Belajar dasar akuntansi & finance. Ini untuk kebutuhan fundamental
  2. Belajar teknikal analysis
  3. Belajar psikologi trading

Saya punya banyak masalah belajar point 1. Hal tersebut karena sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Memang dahulu pernah dapat akuntansi 1 semester tapi nilai saya C karena saya tidak suka dan sering bolos. Mungkin sekarang saya sedang dapat karmanya.

Untuk point nomor 2 saya tidak ada kendala sama sekali karena sebagian besar metode didalamnya seperti Exponential smoothing, moving average, DLL pernah saya ampu ketika mengajar mata kuliah teknik peramalan.

Jika boleh mengulang waktu, maka saya akan mengajar dengan mengambil contoh dalam meramalkan harga saham. Tapi sayang, dulu saya menjelaskan dengan cara yang berbeda. Sebagian besar contoh yang saya berikan adalah optimalisasi stock and purchasing yang saya sendiri tidak pernah terlibat langsung dalam prakteknya.

Untuk point yang ke 3 pun saya tidak punya masalah berarti, sebab saya memang suka belajar psikologi termasuk mentalist. Mungkin itu pula sebabnya saya sudah khatam 3x serial mentalist di HBO. Ya 3x, film yang punya 7 sesi itu. Yang setiap episodenya terdiri dari 23 episode.

Pada tulisan saya edisi jual beli saham selanjutnya saya akan tuliskan tutorial cara membeli saham. Bersambung…!!!

Leave a Reply