Bisakah Kreativitas Mengalahkan Uang Tanpa Batas?

Desember 2018 ini kota Malang sedang dilanda hujan yang cukup lebat setiap harinya. Memang sudah musimnya, meski telat datang. Tapi saya tak mengganggap dan menuduh hujan sebagai aral. Kemarin saya buat janji untuk bertemu sahabat lama meski kurang yakin bisa bertemu. Namanya Dedi. Tidak lama amat sebenarnya, hanya saja dia tinggal di Jakarta, sementara saya di Malang. Jadi, rasanya cukup lama dan seolah beda benua.

Minggu ini ia sedang di Malang. Sebab itu pula saya ingin bertemu, bercengkrama, saling berbagi ilmu, pengalaman dan peluang. Ini adalah kebiasaan lama di komunitas Linux yang sama-sama kami jadi anggotanya.

Pertemuan kali ini permintaanya spesial yaitu saya kasih tausiah kepada teman-teman di coworking space perintis. Saya tambah semangat, karena bisa bertemu banyak orang yang awalnya niat mau ketemu satu orang. Karena di coworking space umumnya diisi orang-orang yang sedang membangun startup atau para freelancer yang rata-rata clientnya dari luar negeri.

Seperti pembuka di paragraf pertama tulisan ini. Hujan melanda tapi semangat tidak surut. Saya datang ke ruang perintis meski langit masih menangis.
Yang ada di kepala adalah saya akan berdiskusi mengenai SEO karena biasanya itu topik menarik dan entah mengapa sangat melekat dengan saya. Bahkan lebih melekat dari Tourism enthusiast.

Faktanya setelah diskusi dimulai. SEO justru jadi topik yang kurang menarik didengar. Percakapan mengalir kearah bisnis, karena memang saat itu sebagian besar peserta diskusi bukan programer tapi mereka yang sedang membangun kerajaan bisisnya meski usia masih 20 tahun. Satu dari mereka malah sedang bangun bisnis email service yang notabene bisnis yang tidak berani saya dekati. Sebab, rimbanya terlalu lebat.

Yang menarik perhatian dari sekian topik dan pertanyaan yang dilempar adalah ” Apakah saya bisa bersaing dengan pemain besar” Pertanyaan ini bukan sembarang, karena salah satu dari teman-teman tadi sedang membangun direktori kuliner yang nantinya model bisnisnya mirip seperti Go-Jek dengan Go-Food. Terus terang saya tidak akan bersaing dengan go-jek karena jumlah dan yang dipegang dan dibakar ampun-ampunan. Uangnya tidak berseri, bahasa lebay-nya.

Terus terang bersaing dengan pemain besar, bukan sesuatu yang mustahil. Hanya saja, tidak bisa dikalahkan dengan uang, kecuali pendanaan yang dimiliki lebih besar. Itupun bukan jaminan sebab kompetitor telah mulai duluan. Tapi, dalam kasus teman ini, jelas dananya tidak sebanding. Ibarat membandingkan berat kuman dengan berat gajah.
Solusinya adalah kreativitas.
Kita harus mampu melihat hal-hal yang tidak dilihat kompetitor dan berpikir tidak dengan cara normatif.

Saya kasih contoh dengan yang terjadi di travelingyuk.com. Bulan lalu ketika kami ingin mengejar satu keyword dan ingin menaikkan domain authority. Setelah melihat kompetitor utama, mereka punya 3000 backlink. Biaya untuk 1 backlink adalah 250 ribu sampai 800 ribu. Saya tau karena kompetitor itu dulunya pernah beli advetorial post seharga 850 ribu di saya.
Jika bersaing menggunakan cara yang sama maka itu sama saja dengan adu uang. Terlebih lagi saya tidak mau keluarkan uang segitu banyak untuk sesuatu yang bisa kita capai dengan cara yang lain.

Alih-alih membelanjakan uang 750.000.000 untuk beli backlink, kami memilih untuk develop tools dan dikasih gratis. Dengan begitu bukan hanya 3000 backlink yang didapat, tapi berlipat-lipat dari angka 3000 yang dimiliki kompetitor.

Leave a Reply