startrail di pantai ngudel pagi hari

Berburu Bintang di Langit Malang

Tidak semua laki-laki yang saya kenal seperti Rizal. Dia adalah adik tingkat saya semasa kuliah di STIMATA Malang. Setelah lulus ia memilih jalan yang berbeda dari jurusannya saat kuliah bahkan berbeda pula dengan jurusannya saat SMK.

Saya kenal betul siapa dia. Selain adik tingkat, ia juga kolega saya semasa masih menjalankan boombastis.com. Sekarang pun ia masih disitu meski saya tidak. Kini Rizal adalah editor. Jurusan kuliahnya sistem Informasi. Tidak ada yang salah memang, toh masih sama-sama ngetik, meski programer ketik kode sementara editor tidak.

Banyak urusan serta masalah yang dihadapi sering kali kami diskusikan bersama. Terakhir kami diskusi tentang kamera mana yang lebih baik antara canon atau sony. Waktu itu jawaban saya diplomatis “tergantung kebutuhan” karena memang tiada habisnya kalau bahas mana yang lebih bagus diantara keduanya. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan. Seperti membandingkan lebih baik mana antara Mesi dan Ronaldo.

Belakangan Rizal sudah memutuskan untuk beli kamera jenis apa dan merek apa.

Akun media sosialnya mulai terlihat lebih aktif dari sebelumnya. Isinya pun mulai menampakkan kualitas photo yang lebih baik, resolusi lebih besar.

Saya lihat ada semangat baru yang sedang ditata.

Setali tiga uang. Saya tawari untuk ikut camping sambil Berburu Bintang di langit Malang. Ia menyanggupi dengan penuh semangat. Meski lewat chating, saya paham ia bersemangat,. Ditangannya ada kamera sony @6000 yang ingin ia kuasai kehandalannya.

Percakapan kami berlanjut mengenai apa saja yang perlu ia bawa. Karena saya tidak ingin merepotkan, jadi saya jawab singkat saja. Kemauan, keberanian, kamera dan senter. Selebihnya saya yang sediakan.

Belakangan saya tau kalau Rizal beli senter yang hanya cukup untuk menerawang asli atau tidaknya mata uang. Saya sendiri bawa senter dengan pancaran 1000 lumens. Kami pun tertawa lepas dengan senter Rizal setelah kita bandingkan sorotan cahayanya.

Sejujurnya saya tidak punya rencana mau camping dimana waktu itu. Belakangan kami putuskan setelah jam menunjukkan waktu yang kurang bersahabat untuk pergi terlalu jauh. Jadilah kami menghabiskan waktu menikmati sunset dipantai bale kambang dan jembatan panjang tanjung sirap.

Tujuan utama datang kemari adalah untuk berburu bintang. Salah duanya adalah milky way, namun sayang aral melintang berupa awan yang cukup tebal.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu karena sudah terlanjur di malang selatan, saya alihkan tujuan ke pantai ngudel.

Drama mulai terjadi, karena google maps kurang akurat. Harusnya ke pantai ngudel tapi kami masuk ke pantai nganteb. Jalanan benar-benar gelap bikin drama makin seru.

sesekali saya bertanya apakah Ia takut karena jalanan begitu gelap. Ia menjawab dengan setengah percaya diri “tidak pak” saya yakinkan kalau saya sangat antusias dan tidak khawatir sama sekali. Tapi memang entah mengapa malam itu urat takut saya rasanya putus.

Ditengah jalan Rizal sedikit bergumam kalau hanya kami berdua saja yang akan camping di pantai ngudel malam itu. Aroma takut saya cium dari balik kabut malam itu dan dan dari sela-sela kalimat tadi. Terus saja saya yakinkan kalau didalam sana ada banyak orang.

Di pintu gerbang pembelian karcis, kami sempat bertanya ada berapa orang yang camping. Si penjaga menjawab “ada 50 orang lebih dan masih ada beberapa group lagi” Seolah tidak percaya, kami pun memeriksa buku tamu dan benar saja. Sudah ada lebih dari 70 orang yang terdaftar.

Begitu masuk pantai ngudel, suasananya cukup riuh, oleh suara musik dangdut dengan speaker  menggelegar yang di dayai mesin genset. Sesekali musiknya sahut-sahutan antara dangdutan dari suara speaker besar tadi dengan suara musik house yang diputar di mobil.

Rizal memutuskan untuk tidur lebih awal, sekitar jam 12:15. Saya tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, langit cukup ramai dihiasi bintang. Saya ambil beberapa photo star trail hingga jam 2:30.

Nantinya jam 4:39 kami sudah harus berada di bukit asmara untuk menikmati sunrise. Jadi saya putuskan untuk tidur saat itu juga. Sayang, seharusnya camping dipinggir pantai bisa membuat tidur lebih nyenyak karena ditemani suara ombak. Suara alam yang saya dambakan tersebut ternyata kalah besar dengan suara orang dangdutan sampai pagi dan tidak ada jeda. Wal hasil saya pun tidak tidur.

Setengah mengantuk pagi itu kami mendaki bukit asmara diterangi 2 senter andalan Rizal dan senter 1000 lumens yang saya bawa. Kini senter miliknya cukup bermanfaat sebab cahaya dari langit sudah sedikit membantu.

pendakian kecil tersebut cukup bermanfaat sebab hawa dan pemandangan diatasnya lumayan memuaskan. Pembaca bisa melihatnya dari photo berikut ini.

Kami tidak mendapatkan sunrise karena awan cukup tebal menyelimuti, tapi kami tidak kecewa karena diatas bukit terasa lebih damai, jauh dari dentuman musik dangdut dipinggir pantai yang masih belum usai. Kami tau belum usai karena ketika angin bertiup kearah kami, sayup-sayup terdengar suaranya.

Bersambung….

Leave a Reply