Topaz Guest House, Jakarta

Selama tahun 2017 dan 2018 saya menghabiskan sebagian besar waktu diluar kota Malang. Paling banyak adalah Jakarta. Selama itu pula, saya menjalani hidup seperti seorang agen “KGB” yang konon katanya mereka tidak pernah tinggal ditempat yang sama lebih dari 2x.

Nah, saya pun demikian. Bukan bermasuk ingin merasakan jadi mata-mata. Tapi ingin membedakan fasilitas berbeda-beda dari tiap hotel. Terutama jaringan hotel seperti fave, ibis, Santika dan lain-lain. Mulai dari bintang 3 sampai bintang 4. Kecuali diluar Jakarta, cukup sering bintang 5.

Dari sekian banyak hotel yang saya tempati. Guest house, Hostel, AirBNB, Airyrooms dan sebangsanya tidak pernah saya coba. Belakangan saya ingin mencoba menginap di kapsul hotel bandara tapi selalu gagal dari sering banget ditakut-takuti masalah barang gampang hilang. Jadinya, sampai detik ini belum kesampaian juga tidur di kapsul hotel.

Topaz Guest House, Cipete

3 minggu yang lalu saya meeting dikantor Travelingyuk Jakarta yang tempatnya samping lotte mart fatmawati itu. Saya cari penginapan yang paling dekat dan dapatnya topaz guest house. Sebenarnya sempat ragu untuk klik yes, lanjutkan ke pembayaran. Tapi jam sudah hampir pukul 10 malam. Penginapan lainnya cukup jauh. Akhirnya saya pasrah, dan tidak berharap lebih karena ini guest house.

Semua pikiran buruk saya mengenai guest house makin berkecamuk begitu sampai, tempatnya sepi, pintu gerbang ditutup rapat dan pencahayaan sedikit remang-remang. Tapi karena capek dan letih mengalahkan segala keruetan tadi.

Singkat cerita. Begitu saya masuk dan melihat ada kolam renang, stigma tentang guest house yang jelek seketika menghilang. Berlanjut masuk kekamar dan ternyata luas serta cukup bagus. Akhirnya malam itu saya tidur seperti bayi. Meski sebelumnya saya berdrama sendiri karena pesen rendang jengkol di restaurant padang pagi-sore.

Kebanggaan dibalik Sebuah Nama

Malam ini 18/02/19 adalah ketiga kalinya saya menginap di Topaz Guest House. Dilayani oleh orang yang sama sejak pertama kali menginap disini. Tapi ada yang unik dengan orang ini. Begitu saya buka pintu gerbang. Dari kejauhan dengan pencahayaan yang remang-remang dia menyambut. “Wah pak CEO ihsan, motivator kita datang lagi”. Meski benar, tapi saya kurang senang dengan sebutan tersebut. Sambil keheranan saya menimpali “Oh, baca nama saya di kartu nama ya” Ia pun menggeleng dan berucap, tidak pernah, karena bapak tidak meninggalkan kartu nama.

Saya cukup capek dan tidak ingin melanjutkan diskusi tapi tetap penasaran darimana dia tau nama panggilan serta jabatan. Tidak perlu dipancing, orangnya langsung menjelaskan. dia bilang. Saya curiga dengan bapak, pembawaanya tenang, kharismatik dan menakutkan, kalau bukan orang besar maka penjahat katanya.

Jika tidak karena menghormatinya, saya pasti cengingikan tertawa sambil gulung-gulung di lantai. Akhirnya saya beri ia kartu nama dan meluruskan bahwa saya bukan motivator. Yang ia baca hanya review orang tentang saya di facebook. Saya sangat paham darimana ia tau saya. Jawaban nomor 1 adalah facebook kemudian related content facebook ketika dia ketik “saatul ihsan” di kolom pencarian facebook. Saya juga paham kenapa dia bilang motivator, itu karena dia menemukan poster saya jadi pembicara di beberapa acara.

Kesimpulannya adalah orang itu berhasil memikat hati saya dengan trik lama yaitu nama membuat bangga. Karena ketika orang mengingat nama kita, maka secara tidak langsung kita menganggap bahwa kita cukup penting dimata si pengingat sehingga ia mengingat nama kita. dan ia boleh menguras kantong saya untuk menginap di guest housenya setiap kali saya ke kantor travelingyuk.com di Jakarta.

Leave a Reply