2019 Tahunnya Pariwisata Banyuwangi

Beberapa tahun terakhir, pariwisata banyuwangi menjadi salah satu tujuan favorit pelancong dalam negeri. Hal ini tidak lepas dari gencarnya promosi yang mereka lakukan, serta dapat dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Sebenarnya pariwisata banyuwangi meningkat sejak bupatinya yang muda itu. Azwar Anas Abdullah dengan visi ingin mengubah image banyuwangi dari kota santet menjadi kota event (wisata). Visinya juga didukung oleh rakyatnya.

Duet 2 Putra Terbaik Banyuawngi

Nama Arief Yahya dan Azwar Anas tidak bisa dipisahkan dari kemajuan pariwisata banyuwangi. Kenapa, karena bagaimanapun bagusnya program pemerintah pusat, tapi jika tidak didukung atau kurang didukung oleh pemerintah daerah maka keberhasilannya tidak akan lebih dari 50%. Hal ini diamini oleh pak Mentri sendiri melalui CEO Commitment yang linknya bisa dibaca disini.

Kita bisa lihat jejak digital dukungan penuh Mentri pariwisata kepada banyuwangi. Search saja di google dengan keyword ” kemenpar dukung banyuwangi” atau klik link berikut. Jejak terlihat mulai dari terlibatnya Banyuwangi dalam event akbar ketika Indonesia jadi tuan rumah untuk IMF. Tidak sampai disitu. Bandara banyuwangi juga di tidak lepas dari andil menteri pariwisata. Sekarang bandara banyuwangi sudah jadi internasional. Memang pencetusnya pertama kali bukan Azwar Anas atau Mentri pariwisata, melainkan bupati terdahulu yaitu Samsul Hadi, bupati periode 2000-2005. Hal ini diamini juga oleh Bupati sekarang, Azwar Anas. Berikut kutipan wawancara dibeberapa media “Saya ingat saat menjadi anggota DPR RI, bupati Samsul datang ke Jakarta untuk meminta dukungan pembangunan di Banyuwangi, salah satunya pembangunan bandara,” kata Anas”

Bupati terdahulu yang punya ide, dan bupati sekarang(2019) yang merealisasikan. Politik yang dimainkan Azwar Anas cukup santun. Tidak sama sekali menghilangkan jasa pendahulunya, justru mengapresiasi. Salah satu caranya selain mengakui yaitu memfasilitasi keluarga bupati terdahulu untuk merasakan penerbanangan internasional pertama dari Banyuwangi ke Malaysia.

Upsss. Saya bahas Azwar Anas kepanjangan. Anyway, kesimpulannya adalah Azwar Anas dan Arief Yahya adalah bukti duet yang sempurna. Kebijakan pemerintah pusat didukung penuh oleh daerah.

Tapi keberhasilan banyuwangi kalau saya bahas dengan beberapa pemerintah daerah jadi bahan cibiran. Sebagian besar cibirannya seperti ini “mentang-mentang menteri pariwisatanya orang banyuwangi, jadi banyuwangi dapat prioritas. Dan bukan 1 atau 2 pemerintah daerah yang berujar demikian. Saya bertemu hampir lebih dari 5 orang dari dinas pariwisata daerah berucap seperti in.

Menurut saya. Jika saya diposisi pak mentri pariwisata pun akan melakukan hal yang sama. Dengan syarat pemimpin daerahnya juga mau ikut maju. Dan yang didukung penuh oleh mentri juga bukan hanya banyuwangi. Lihat saja program pemerintah pusat lewat wonderfull Indonesia atau 10 bali baru. Justru banyuwangi bukan jadi bagian program tersebut.

Anyway, dimana ada kesuksesan disitu pasti ada pro dan kontra. Jadi ketika ada pemerintah daerah yang iri, itu adalah hal yang wajar.

Alasan Kenapa 2019 Adalah Tahunnya Pariwisata Banyuwangi

Diatas kebanyakan gosip, jadi mari kita kembali ke laptop. Mengapa 2019 jadi tahunnya banyuwangi. Berikut saya jabarkan beberapa alasannya berdasarkan pengamatan saya yang didukung dengan data.

Harga Tiket Pesawat Mahal

Harga tiket pesawat mahal akan membuat para pelancong dalam negeri beralih dari moda transportasi udara ke transportasi darat. Tentu prioritas tujuan wisatanya pun akan berubah yang tadinya ke remote island atau ke luar pulau sekarang akan terpusat didalam pulau. Argumen ini didukung oleh daerah asal wisatawan menurut data dari BPPS untuk tahun 2017.

Seperti yang terlihat pada data digambar. Wisatawan Nusantara masih didominasi oleh Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Yang mana pilihan transportasi daratnya cukup beragam yaitu kereta api, bus dan mobil pribadi.

Khusus traveller dari jawa timur, mereka bisa ke banyuwangi lewat darat dan lebih mudah karena masih dalam 1 provinsi. Kendati memakan waktu yang lebih ketimbang memakai pesawat. Tapi biaya yang murah cukup sulit untuk ditolak. Misal. Dari surabaya ke Banyuwangi pakai travel dengan waktu tempuh sekitar 7-9 jam saja hanya perlu membayar 100 ribu. Dibandingkan dengan pesawat yang biayanya 5-7 kali lipat yaitu 500-600 ribu.

Bersambung…..!!!

Leave a Reply